Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



kata pak tino sidin, lukisan saya bagus

melukis itu seni menyusun garis, demikian kata pak tino sidin, garis lurus dan garis lengkung.
garis lurus, menanti diputus untuk ditindih dengan garis lurus yang lain. garis lengkung jika diteruskan menjadi lingkar.

garis lurus dan lengkung berpadu, itulah gambar.

pak tino sidin, pelukis idola saya melebihi salvador dali, setidaknya dari sisi sejarah mengapa saya suka seni menyusun garis. ia mengajari membuat garis tebal tipis, karena gambar hidup oleh tebal tipis. seperti juga kehidupan, nampak nyata oleh tebal dan tipis.

pak tino sidin suka bikin hidung kembang kempis, satu ketika, gambar yang saya kirim dilihatkannya di acara "mari menggambar" "bagus...bagusss...baguss.." demikian katanya, senangnya bukan kepalang, meski saya tau, gambar saya jelek sekali..hehehe.

belakangan banyak kalangan yang menuduh pak tino sidin merusak imajinasi anak indonesia, dengan gambar-gambar yang standar dan tidak berwarna katanya. bagi saya terlalu elitis tuduhan seperti itu, mengingat pada saat itu terutama di luar kota-kota besar, berapa orang sih yang punya televisi berwarna? saya pikir salah satu pertimbangan pak tino sidin fokus pada garis karena televisi hitam putih lah yang saat itu dimiliki mayoritas pemirsa tvri. mau digambar berwarna dan penuh imajinasi pun, percuma saja....yang terlihat hanya garis lurus dan lengkung, tebal dan tipis...

faktanya, banyak sekali pelukis handal indonesia merupakan "hasil" dari acara "mari menggambar" nya pak tino sidin.

posted by wonka @ 6:05 PM, , links to this post




volatile

terjebak dalam volatile market, rehat dulu barang sehari dua....

posted by wonka @ 3:08 PM, , links to this post




algojo

algojo I

di atas kereta ekonomi jakarta-jogja, akhir 90-an.

masih nampak gagah, kumis sebesar lontong melingkar di atas bibir hitamnya yang terbakar asap tembakau, pada jari tangannya melingkar cincin bermata besar serupa ikan mas koki. pak no, demikian ia memperkenalkan diri, bercerita tentang dirinya sambil kami bersila main gaple di antara bangku-bangku kereta, beralas koran bekas, dengan kacang rebus di tangan.
ia dulunya polsuska (polisi khusus kereta), menurut dongengnya, menjelang tahun 60-an ia bertugas mengawal kereta api uap jalur selatan, dari bandung sampai jogja, seringnya perjalanan malam. karena kondisi republik yang masih rapuh, perjalanan sering kali tak aman. garong, begal, dan bajing luncat berkeliaran di atas kereta malam. jika sudah begitu, hidup dan mati para polsuska tipis sekali batasnya. para bandit itu berani sekali, ada yang berilmu kebal, ada yang hanya nekat saja. jika tertangkap tangan, tak segan mereka melawan, ada yang berhasil dibekuk dengan mudah, ada yang harus kejar-kejaran.
"sampai di atas kereta juga?" tukas saya. "ya", kata pak no, "sampai di atas kereta". berkejaran seperti james bond saja. seperti para pencoleng itu, polsuska di jaman itu membekali diri dengan ilmu kebal, meski tak jarang senjata bandit juga sakti, seringkali melukai.
pak no bilang, ia udah berhasil membunuh banyak orang. ada yang jasadnya ditemukan, ada yang dibiarkan jatuh begitu saja dari atap kereta.

jika ingat mayat-mayat yang dihasilkan pelurunya itu, pak no masih suka menangis, pada satu sisi mensyukuri umurnya yang panjang. pada satu sisi, dengan alasan apapun, tetap saja ia dikenang sebagai pembunuh.


algojo II

aki suharna, demikian kami memanggilnya, menjelang umur 80-an saat ia mengontrak bersama istrinya di rumah depan kakek. ia bekas kopral abadi dari divisi siliwangi, pangkatnya tak naik karena sulit sekali mencari pengganti tugasnya sebagai algojo, penyembelih para terhukum.

menurutnya..ia tak mampu mengingat jumlah manusia yang sudah disembelihnya. betul-betul disembelih dengan golok tajam, untuk menghemat peluru. tak jelas, apa mereka yang disembelih sudah diadili atau belum, tetapi kebanyakan yang ia sembelih adalah para telik yang berpihak pada belanda, demikian dongengnya. pada masa pemberontakan DI/TII, ia banyak menyembelih “gorombolan” yang tertangkap di gunung, setelah operasi pagar betis dan pengasapan gua-gua.

meski tak ingat betul berapa jumlah orang yang sudah disembelihnya, ia ingat betul proses penyembelihan itu.setiap ceritanya membuat kami bergidik, ngeri, takut, jijik..sampai tak doyan makan. kepala para terhukum itu diletakan di paha, lalu ia tatap matanya…ada yang benci ada yang menghiba, namun selebihnya pasrah…dalam keadaan tubuh terikat. tak ada permintaan terakhir.aki suharna menggorok leher-leher itu, beberapa sampai putus. pada goloknya tersisa darah…aki suharna selalu menjilat sisa darah itu, biar tak terbawa mimpi, biar tak menghantui.

bercerita, begitu kata aki suharna, adalah cara untuk menyingkirkan perihnya hati mengingat masa-masa penyembelihan itu, ia bercerita sedetail-detailnya pada siapa saja, sampai kami menghindar buat diceritai lagi.

cara yang aneh, tapi itu yang membuatnya nampak damai menjelang mati.

algojo III

bekas tetangga dekat rumah, ia salah satu dari penembak misterius di awal 80-an. ada yang paling perih katanya, saat salah satu bandit yang akan dihabisinya menitip surat buat istri dan anaknya. permintaan yang akhirnya ia penuhi, surat entah apa itu dibalas ucapan terima kasih sang istri.

katanya, sudah bertahun-tahun permintaan cerainya pada sang suami tak jua dikabulkan. surat terakhir itu, berisi pesan, bahwa sang suami akhirnya mau menceraikan...

algojo IV

mungkin kelak jika saya bertemu algojo yang menembak amrozi dan kawannya, saya akan memintanya bercerita.

algojo V

kita, yang suka membunuh mimpi, harapan, dan cita-cita orang lain untuk maju.




posted by wonka @ 2:48 AM, , links to this post




rosela di taman pelipur lara

dunia ini seperti terminal, saat ada yang datang, selalu ada yang pergi. sebagai terminal, jadwal datang dan pergi di dunia ini kacau sekali, ada yang datang tanpa dikehendaki, ada yang pergi padahal kehadirannya masih dinanti.

ada yang ditunggu tak kunjung tiba, ada yang hanya menyampah mengotori namun tak jua pergi. namun datang dan pergi adalah niscaya...

tak seperti orang kebanyakan, beruntunglah amrozi, ia sudah punya jadwal pergi. karenanya ia punya banyak waktu berkemas, asal cakap mengemas, tak satu pun bekal akan tertinggal. sedangkan kita, mungkin saja sedang lari tunggang langgang, atau sedang pipis di celana, atau sedang main kerdip-kerdipan mata dengan penumpang lain yang sedap rupa dipandang saat mendapat panggilan pergi, tidak semua urusan di terminal sudah dituntaskan...karena panggilan pergi itu sifatnya memaksa dan pasti.

saya tidak dalam posisi menghakimi imam samudera, mukhlas dan amrozi. salah atau benar biarlah hukum yang menentukan, karena terminal adalah tempat berjumpa sebab dengan akibat, semua tindakan harus dipertanggung jawabkan. dalam hal ini, mereka tidak lari..tentang selepas dari terminal ini kemana mereka pergi, Tuhan saja yang berhak menjawabnya. entah surga atau neraka, tentu saja bukan urusan kita.

seriang apapun pergi, tentu tak luput dari lara meski sembunyi, pada rosela di taman kecil antara sel-sel di lapas batu, mereka adukan lara yang tak didengar oleh angkuh jeruji...kata imam samudera, rosela di taman pelipur lara.

sekali saja, saya ingin berkata kagum pada mereka dari satu sisi. meski nampak putus asa...ada ketegaran menjelang mati yang bikin iri. entahlah benar atau salah prinsipnya, mereka konsisten dengannya.

saya telah memilih sisi sekular dalam hidup, namun saya ragu..apakah bisa setegar mereka menjelang pergi.

salah atau benar mereka, Tuhan jua lah yang kuasa.
innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.

posted by wonka @ 3:00 PM, , links to this post