Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



ngabuburit

ramadhan tiba,
alhamdulillah saya diberi kesempatan menikmatinya lagi, umur saya diperpanjang setidaknya sampai hari ini. menikmati lapar di hari pertama.

puasa tiba, siapa tak suka?
pada masa-masa awal belajar puasa, saya sering dibibita hal-hal indah tentang puasa, belum pada maknanya, tetapi pada kesenangan-kesenangan kecil khas anak-anak. seperti makanan yang lebih enak dari biasanya, lalu tantangan kekuatan berpuasa lengkap dengan hadiah jika berhasil melaluinya. misalnya jika puasa bisa lengkap sebulan penuh tanpa batal, saya dapat sepeda baru, jika batal sehari, dapat sepeda baru juga tetapi dengan harga yang lebih murah. jika batal lebih dari 5 hari, saya cuma dapat baju lebaran saja, dan tidak terlalu bagus kualitasnya. makanya saya mati-matian menahan lapar untuk dapat kesenangan-kesenangan itu. kegembiraan khas anak berumur 7 tahun. tidak ada ancaman hukuman neraka atau hadiah surga. hadiah buat saya yang kontan-kontan saja, orang tua tak membiarkan saya menunggu pahala yang dikasihnya lama.

sepulang sekolah, saya biasanya berburu makanan untuk berbuka, karena di kampung dan saat itu tahun 80an, tentu saja bukan makanan-makanan instan yang digandrungi anak-anak jaman sekarang. perburuan biasanya dimulai dari sekitar sekolah, karena ramadhan biasanya bertepatan dengan kemarau, petani di kampung saya bertanam palawija. ada kacang tanah, bengkuang, ketimun, sampai semangka. ada saja yang tertinggal saat dipanen, menemukan umbi-umbian dan buah yang tertinggal di sawah itu seperti perburuan harta karun saja. bersama teman-teman, kadang saya menemukan telur puyuh yang tertinggal di semak-semak belukar pesawahan.

menjelang ashar, perburuan makanan di kebun-kebun sekitar rumah, masih banyak buah-buahan unik di kampung kami. ada kesemek, gandaria, buah kemang, manoa, bencoy, pisitan, lobi-lobi (tau buah-buahan ini?). di kampung kami, buah-buahan liar ini milik bersama, siapa pun bebas memetiknya, asal tidak dijual.
biasanya kami berburu makanan sampai menjelang magrib, makanan sudah banyak di gembolan, lalu kami pulang ke rumah masing-masing.

di rumah, berbagai makanan sudah tersedia. beberapa diantaranya hanya dihidangkan pada bulan puasa, seperti rendos, goyobod, oyek, angeun poloy, cobek jaer, tuum peda, dan beberapa makanan lain.

dur magrib! saya makan seperti orang keranjingan, segala dimasukan ke perut. hasilnya, waduhh..kamerkaan. jika sudah begitu, tidak kuat apa-apalagi, perut saya dikerokin pake centong, katanya itu cara mujarab menghilangkan kamerkaan!

udah dulu, besok saya lanjut cerita permainan-permainan khas ramadhan di kampung saya.

selamat menjalankan ibadah puasa.

posted by wonka @ 3:17 AM, , links to this post