Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



bukan troubadour hugo

akan menjadi esmeralda dalam troubadour hugo, katamu saat kulepas pergi. sedangkanku diamuk badai gurun, dibakar terik sahara. kau menjadi grail, aku melukai diri sendiri.







-bersambung-



**quasimodo ke tukang pijat dulu. pegel katanya sok bungkuk melulu..setelah itu akan lanjutkan dongengnya.

posted by wonka @ 5:40 PM, , links to this post




bis malam

bapak mengajari saya petualangan aneh.

naik bis malam tidak dikenal, sampai ke ujung timur pulau jawa. lajunya kencang sekali, semua penumpang tertidur pulas, hanya kernet dan sopir yang terjaga, juga saya. kami seperti hantu malam, penguasa jalan raya.

sampai sekarang pun, jika masih bisa ditempuh maksimal semalam, saya selalu naik bis kemanapun pergi jika sendiri. ada semacam gairah aneh duduk di belakang pengemudi, kencang lajunya, merajai jalan raya. ada sejenis sensasi saat bis yang saya tumpangi menyalip bis lainnya. ketegangan saat saling mengejar, dan kepuasan yang berlebih saat tak terkejar lagi. apalagi bis-bis malam di indonesia, ngebutnya menyenangkan sekali.

hobi aneh ini sudah terkenal di kalangan teman, katanya jika saya sakit obatnya mudah sekali. dibawa saja ke terminal bis antarkota, dijamin langsung bisa lari. namun begitulah adanya, sampai sekarang, saya suka sekali naik bis malam.

saat SD, buku tulis saya penuh dengan gambar bis antarkota, bahkan saat saya mulai bisa membaca, kata-kata pertama yang berhasil saya eja adalah nama-nama bis antarkota...hehehe. ibu suka menyalahkan bapak, katanya anak kecil jangan ditulari keluyuran. tapi tak bisa elak, hobi keluyuran ini mungkin diturunkan secara genetis dari bapak.

bis antarkota adalah miniatur kehidupan, di dalam kabin, ada puluhan manusia dengan puluhan tabiat. saat perjalanan lancar, watak baik yang nampak, namun saat perjalanan terhambat, watak aslinya pasti nampak. ada yang sabar, ada yang tak sabar. ada yang rasional, namun lebih banyak yang emosional. sopir adalah pemegang kekuasaan, sedang kondektur pengatur regulasinya. pemegang kekuasaan baik melayani, namun lebih banyak yang tidak peduli pada yang mestinya dilayani.

di beberapa rute yang biasa saya tempuh, saya sampai kenal baik dengan beberapa sopir dan kondekturnya, perkenalan yang menguntungkan hehehe...waktu masih kuliah, perkenalan ini sering berakhir dengan jatah makan gratis di rumah makan.

sayang sekali, ruang dan waktu kini dilipat-lipat. orang-orang terobsesi dengan kecepatan. jadwal-jadwal padat memaksa naik pesawat. padahal sejujurnya, sampai sekarang saya selalu takut naik pesawat, apalagi belasan jam. begitu tersiksa rasanya...

bis malam antarkota adalah petualangan aneh yang menakjubkan, seperti kereta menuju hogwarts, saat mulai melaju, kita tak tahu akan sampai dimana. kepada sopir kita menyerahkan keamanan perjalanan, keselamatan nyawa, pada orang yang bahkan kita tak kenal. aneh sekali.

tapi saya suka.

posted by wonka @ 3:26 PM, , links to this post




djoeir

saat mengenalnya usia saya baru 18, hanya satu perjumpaan, saya mengagumi semangatnya.

ia baru menerbitkan memoarnya, judulnya cukup bikin penasaran "memoar seorang sosialis", tahun 98, apapun yang berbau sosialisme adalah pemicu semangat menggebu, gelora rasa ingin tahu. pun begitu dengan saya, begitu bersemangat saya membacanya, membayangkannya semuda dulu, bertualang dengan nalar, revolusi fisik, plus pengembaraan ala detektif. sungguh, ini adalah pengalaman pertama saya didongengi pejuang kemerdekaan, langsung dari mulutnya sendiri.

perjumpaan itu berlanjut komunikasi yang baik, pak djoeir moehamad, ternyata pahlawan yang rendah hati. mau saja ia menjawab rasa ingin tahu saya. menghadiahi bacaan-bacaan, memberi nomor telepon rumahnya.

beberapa bulan kemudian, saya menelponnya, katanya sedang tidak enak badan, saat saya meminta beberapa bukunya, jawabannya adalah ya! bukan main girangnya.

dua minggu setelahnya, saya akan ke jakarta, menelpon dulu ke rumahnya, alangkah terkejutnya saya. di seberang telepon, seseorang bilang, pak djoeir sudah meninggal dunia.

sedih, sedih sekali bila mengingatnya...

posted by wonka @ 3:48 PM, , links to this post




hidup tak sesinetron itu

kepada N
__________________________________________


malaikat bersayap lima belas,
terbang di atas atap, jatuhkan bungkusan angin
bawa suara, hiruknya terlampau pikuk

ribuan macam pesan, hanya satu yang kau sampaikan padaku
tapi tak kau beritahu yang mana
malaikat bersayap lima belas itu tak bisa baca,
tak tahu yang mana pesan untukku

malaikat bersayap lima belas,
memohon diri hendak mengejar rubah berekor sembilan
tinggalkan sekeranjang angin ribuan pesan di daun jendela
kuharus membaca satu-satu, butuh waktu

rubah berekor sembilan, lintangnya terlampau pukang
berteriak "wuoiii...hidup tak sesinetron itu!!
ia tertangkap malaikat itu, diikat lalu dikarungi

seperti khairil, rubah itu bergumam "akan kemana nasib waktu..."

posted by wonka @ 11:38 AM, , links to this post




api dan suci

iblis tak hendak sujud pada adam karena ia terbikin dari api.

api membakar semua yang kotor, karenanya ia suci, lebih suci dari tanah, lebih suci dari suci, karena membakar adalah membersihkan.

demikian pula rama, ia membakar sinta untuk mensucikan, meski saya pikir rama harus membakar dirinya sendiri sebelum meminta sinta yang suci, tak jelas apakah rama tak berselingkuh saat rahwana membawa sinta pergi.

neraka berisi api, demikian kata kitab suci, neraka bukan hukuman karena api itu membersihkan, membuat siap bermukim di tempat suci.

ibrahim tak hangus dibakar api, karena ibrahim sudah suci, tak ada kotoran yang harus dibersihkan.

lalu hallaj dibakar api, saya tak tahu akhir ceritanya...saya tak pernah menemukan catatan pemakaman tubuh hallaj yang hangus terbakar api.

posted by wonka @ 5:31 AM, , links to this post




jo

saya memanggilnya jo, entah siapa nama panjangnya. mungkin warjo, karjo, sarjo, atau cuma jo. bukan pemain bola brazil yang kaya raya itu, tetapi jo ini tetangga dekat rumah saya. beristri "r" beranak dua, dan seorang anak angkat warisan ibunya, namanya "a".

tadi sore istri jo datang ke rumah, ingin menjual sarung, buat makan hari ini katanya. hari ini jo tak dapat penumpang, jo memang sedikit lebih malas dibanding tukang becak lainnya. ia berangkat jam 9 pagi, dan jam 4 sore sudah pulang, seperti pegawai negeri saja. r menjual sarung, saya tak butuh sarung.

namun rasanya tak enak sekali menolaknya, bikin solat buyar, rasanya entah menghadap siapa. hanya terbayang wajah dua anak jo, dua bocah kurus itu pasti sedang lapar sore ini.

sekantung beras, selembar uang kertas, r kupanggil ke rumah. ambil saja sarungnya kata saya, siapa tau suatu saat jo ingin solat.

posted by wonka @ 12:22 PM, , links to this post




simulacrum

ada pasukan fantasi yang menyusup ingin merebut dunia nyata, demikian kata borges. namun apakah nyata itu? bukankah ia hanya sekumpulan fantasi yang dihidupkan oleh konsensus bersama.

nyata dan fantasi adalah masalah negosiasi. lalu dipilah mana yang menyakitkan dan mana yang bisa dinikmati. namun diantara nyata dan fantasi itu ada secuil perih yang tak terkendali. menyimak baudrillard, itulah efek simulakra. saat kenyataan dirancang dari sekumpulan fantasi yang dipulung dari sana-sini. lalu disihir, simsalabim! kita dipaksa setuju bahwa itulah kenyataan.

andai saja saya bisa sms borges, saya mau bilang,"hati-hati, ada pasukan dari dunia nyata yang ingin menyerbu negeri fantasi".


**apakabar pendekar rekayasa? hehehe.

posted by wonka @ 5:29 PM, , links to this post




bungur dan edelweis

Kalau dunia gelap di sekitarmu,
nyalakan hasratmu di medan raya,
sampai matahari sendiri malu
melihat cahayamu.

pada kilau bebatuan tumbuh berpagut embun, serupa zamrud retak runtuh berserak, nyalamu merah terbelah oleh bayangmu sendiri.

Di tengah lapangan hijau-kemilau
biarlah berkembang bunga ungu
di puncak pohon bungur dengan meriah
alamat mahkota jiwamu
yang hidup dari musim ke musim.

serupa kelana tak butuh pelana untuk taklukan buana, cukup sayap dan udara membawamu ke relung mata angin, membebaskanmu dari labirin tak bertepi, membawamu pada ketinggian alam raya, dan menukikanmu pada mandala.

Antara Bengawan Solo dan Sungai Berantas
hanyalah sepungkah tanah
yang terlalu sempit untuk melangkah,
di mana gairahmu tiada terbatas
.

karena arah membuat dunia berbatas, terbangmu setinggi-tingginya, tukikmu sedalam-dalamnya, pekikmu sempurnanya daya indera, membuka semua ruang waktu tak berbatas.

Antara ujung bumi dan ujung lainnya
matahari masih masih memekik Sahara
dan salju membeku puncak gunung Alp;

tak kelana tiada rindu rumah pujaan.

barangkali juga ada bunga edelweis
menanti kedatangan anak manusia
untuk beristirahat bersama.


serupa waktu beranak waktu, ruang beranak bisu. pulangmu beranak haru biru.

jikalau ini sudah terjadi,
akan lenyaplah segala gelap,
sebab engkau sendiri menjadi matahari
di antara kesuryaan dan bintang-gemintang
di cakrawala alam-semesta


*puisi asli "bungur dan edelweis" karya trisno sumardjo. saya numpang coret-coretan,mohon jangan dimarahi :)

posted by wonka @ 2:34 PM, , links to this post




kemarin

kembang sungsang cahya kunang
kadia soca lintang gilang gumilang




serupa matari, terangmu akhiri gerhana.

posted by wonka @ 12:21 PM, , links to this post




tahun yang berulang

serupa matahari mengeja waktu. bulan mengeja malam, mengeja awan, mengeja dedaunan pekat sembunyi embun, mengeja resahmu di titik nadir, pada jendela musim beku.

rumput tak tumbuh pada jalan setapak bebatu, membuat kaki telanjang menginjak perih kelupas kulit ari, pada lorong setajam beling yang berulang. selalu harus lewat jalanan itu menuju kedai yang suarakan lirih darwis-darwis tua yang sembunyi. lalu mata nanar ini memandang kastil-kastil umbria tua di utara, masih saja pongah seperti dulu, saat kali pertama kami bertemu.

serupa udara yang menyerah pada pukau dinding batu tua itu, lalu berhenti pada sudut simetris tak berbayang bulan, disitu kami biasa bertemu. kedai sunyi tanpa angin menderu, berisi orang-orang terdiam.

dia datang dengan sekotak kue rempah, setumpuk buku, dan alat pemotong kuku. sebentar saja bersua, seperti yang sudah-sudah, hanya berucap selamat ulang tahun untukku, habis itu meminta diri.

serupa binatang malam
ia pergi ke selatan, menuju luna kelam....

posted by wonka @ 8:06 AM, , links to this post




kata pak tino sidin, lukisan saya bagus

melukis itu seni menyusun garis, demikian kata pak tino sidin, garis lurus dan garis lengkung.
garis lurus, menanti diputus untuk ditindih dengan garis lurus yang lain. garis lengkung jika diteruskan menjadi lingkar.

garis lurus dan lengkung berpadu, itulah gambar.

pak tino sidin, pelukis idola saya melebihi salvador dali, setidaknya dari sisi sejarah mengapa saya suka seni menyusun garis. ia mengajari membuat garis tebal tipis, karena gambar hidup oleh tebal tipis. seperti juga kehidupan, nampak nyata oleh tebal dan tipis.

pak tino sidin suka bikin hidung kembang kempis, satu ketika, gambar yang saya kirim dilihatkannya di acara "mari menggambar" "bagus...bagusss...baguss.." demikian katanya, senangnya bukan kepalang, meski saya tau, gambar saya jelek sekali..hehehe.

belakangan banyak kalangan yang menuduh pak tino sidin merusak imajinasi anak indonesia, dengan gambar-gambar yang standar dan tidak berwarna katanya. bagi saya terlalu elitis tuduhan seperti itu, mengingat pada saat itu terutama di luar kota-kota besar, berapa orang sih yang punya televisi berwarna? saya pikir salah satu pertimbangan pak tino sidin fokus pada garis karena televisi hitam putih lah yang saat itu dimiliki mayoritas pemirsa tvri. mau digambar berwarna dan penuh imajinasi pun, percuma saja....yang terlihat hanya garis lurus dan lengkung, tebal dan tipis...

faktanya, banyak sekali pelukis handal indonesia merupakan "hasil" dari acara "mari menggambar" nya pak tino sidin.

posted by wonka @ 6:05 PM, , links to this post




volatile

terjebak dalam volatile market, rehat dulu barang sehari dua....

posted by wonka @ 3:08 PM, , links to this post




algojo

algojo I

di atas kereta ekonomi jakarta-jogja, akhir 90-an.

masih nampak gagah, kumis sebesar lontong melingkar di atas bibir hitamnya yang terbakar asap tembakau, pada jari tangannya melingkar cincin bermata besar serupa ikan mas koki. pak no, demikian ia memperkenalkan diri, bercerita tentang dirinya sambil kami bersila main gaple di antara bangku-bangku kereta, beralas koran bekas, dengan kacang rebus di tangan.
ia dulunya polsuska (polisi khusus kereta), menurut dongengnya, menjelang tahun 60-an ia bertugas mengawal kereta api uap jalur selatan, dari bandung sampai jogja, seringnya perjalanan malam. karena kondisi republik yang masih rapuh, perjalanan sering kali tak aman. garong, begal, dan bajing luncat berkeliaran di atas kereta malam. jika sudah begitu, hidup dan mati para polsuska tipis sekali batasnya. para bandit itu berani sekali, ada yang berilmu kebal, ada yang hanya nekat saja. jika tertangkap tangan, tak segan mereka melawan, ada yang berhasil dibekuk dengan mudah, ada yang harus kejar-kejaran.
"sampai di atas kereta juga?" tukas saya. "ya", kata pak no, "sampai di atas kereta". berkejaran seperti james bond saja. seperti para pencoleng itu, polsuska di jaman itu membekali diri dengan ilmu kebal, meski tak jarang senjata bandit juga sakti, seringkali melukai.
pak no bilang, ia udah berhasil membunuh banyak orang. ada yang jasadnya ditemukan, ada yang dibiarkan jatuh begitu saja dari atap kereta.

jika ingat mayat-mayat yang dihasilkan pelurunya itu, pak no masih suka menangis, pada satu sisi mensyukuri umurnya yang panjang. pada satu sisi, dengan alasan apapun, tetap saja ia dikenang sebagai pembunuh.


algojo II

aki suharna, demikian kami memanggilnya, menjelang umur 80-an saat ia mengontrak bersama istrinya di rumah depan kakek. ia bekas kopral abadi dari divisi siliwangi, pangkatnya tak naik karena sulit sekali mencari pengganti tugasnya sebagai algojo, penyembelih para terhukum.

menurutnya..ia tak mampu mengingat jumlah manusia yang sudah disembelihnya. betul-betul disembelih dengan golok tajam, untuk menghemat peluru. tak jelas, apa mereka yang disembelih sudah diadili atau belum, tetapi kebanyakan yang ia sembelih adalah para telik yang berpihak pada belanda, demikian dongengnya. pada masa pemberontakan DI/TII, ia banyak menyembelih “gorombolan” yang tertangkap di gunung, setelah operasi pagar betis dan pengasapan gua-gua.

meski tak ingat betul berapa jumlah orang yang sudah disembelihnya, ia ingat betul proses penyembelihan itu.setiap ceritanya membuat kami bergidik, ngeri, takut, jijik..sampai tak doyan makan. kepala para terhukum itu diletakan di paha, lalu ia tatap matanya…ada yang benci ada yang menghiba, namun selebihnya pasrah…dalam keadaan tubuh terikat. tak ada permintaan terakhir.aki suharna menggorok leher-leher itu, beberapa sampai putus. pada goloknya tersisa darah…aki suharna selalu menjilat sisa darah itu, biar tak terbawa mimpi, biar tak menghantui.

bercerita, begitu kata aki suharna, adalah cara untuk menyingkirkan perihnya hati mengingat masa-masa penyembelihan itu, ia bercerita sedetail-detailnya pada siapa saja, sampai kami menghindar buat diceritai lagi.

cara yang aneh, tapi itu yang membuatnya nampak damai menjelang mati.

algojo III

bekas tetangga dekat rumah, ia salah satu dari penembak misterius di awal 80-an. ada yang paling perih katanya, saat salah satu bandit yang akan dihabisinya menitip surat buat istri dan anaknya. permintaan yang akhirnya ia penuhi, surat entah apa itu dibalas ucapan terima kasih sang istri.

katanya, sudah bertahun-tahun permintaan cerainya pada sang suami tak jua dikabulkan. surat terakhir itu, berisi pesan, bahwa sang suami akhirnya mau menceraikan...

algojo IV

mungkin kelak jika saya bertemu algojo yang menembak amrozi dan kawannya, saya akan memintanya bercerita.

algojo V

kita, yang suka membunuh mimpi, harapan, dan cita-cita orang lain untuk maju.




posted by wonka @ 2:48 AM, , links to this post




rosela di taman pelipur lara

dunia ini seperti terminal, saat ada yang datang, selalu ada yang pergi. sebagai terminal, jadwal datang dan pergi di dunia ini kacau sekali, ada yang datang tanpa dikehendaki, ada yang pergi padahal kehadirannya masih dinanti.

ada yang ditunggu tak kunjung tiba, ada yang hanya menyampah mengotori namun tak jua pergi. namun datang dan pergi adalah niscaya...

tak seperti orang kebanyakan, beruntunglah amrozi, ia sudah punya jadwal pergi. karenanya ia punya banyak waktu berkemas, asal cakap mengemas, tak satu pun bekal akan tertinggal. sedangkan kita, mungkin saja sedang lari tunggang langgang, atau sedang pipis di celana, atau sedang main kerdip-kerdipan mata dengan penumpang lain yang sedap rupa dipandang saat mendapat panggilan pergi, tidak semua urusan di terminal sudah dituntaskan...karena panggilan pergi itu sifatnya memaksa dan pasti.

saya tidak dalam posisi menghakimi imam samudera, mukhlas dan amrozi. salah atau benar biarlah hukum yang menentukan, karena terminal adalah tempat berjumpa sebab dengan akibat, semua tindakan harus dipertanggung jawabkan. dalam hal ini, mereka tidak lari..tentang selepas dari terminal ini kemana mereka pergi, Tuhan saja yang berhak menjawabnya. entah surga atau neraka, tentu saja bukan urusan kita.

seriang apapun pergi, tentu tak luput dari lara meski sembunyi, pada rosela di taman kecil antara sel-sel di lapas batu, mereka adukan lara yang tak didengar oleh angkuh jeruji...kata imam samudera, rosela di taman pelipur lara.

sekali saja, saya ingin berkata kagum pada mereka dari satu sisi. meski nampak putus asa...ada ketegaran menjelang mati yang bikin iri. entahlah benar atau salah prinsipnya, mereka konsisten dengannya.

saya telah memilih sisi sekular dalam hidup, namun saya ragu..apakah bisa setegar mereka menjelang pergi.

salah atau benar mereka, Tuhan jua lah yang kuasa.
innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.

posted by wonka @ 3:00 PM, , links to this post