Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



algojo

algojo I

di atas kereta ekonomi jakarta-jogja, akhir 90-an.

masih nampak gagah, kumis sebesar lontong melingkar di atas bibir hitamnya yang terbakar asap tembakau, pada jari tangannya melingkar cincin bermata besar serupa ikan mas koki. pak no, demikian ia memperkenalkan diri, bercerita tentang dirinya sambil kami bersila main gaple di antara bangku-bangku kereta, beralas koran bekas, dengan kacang rebus di tangan.
ia dulunya polsuska (polisi khusus kereta), menurut dongengnya, menjelang tahun 60-an ia bertugas mengawal kereta api uap jalur selatan, dari bandung sampai jogja, seringnya perjalanan malam. karena kondisi republik yang masih rapuh, perjalanan sering kali tak aman. garong, begal, dan bajing luncat berkeliaran di atas kereta malam. jika sudah begitu, hidup dan mati para polsuska tipis sekali batasnya. para bandit itu berani sekali, ada yang berilmu kebal, ada yang hanya nekat saja. jika tertangkap tangan, tak segan mereka melawan, ada yang berhasil dibekuk dengan mudah, ada yang harus kejar-kejaran.
"sampai di atas kereta juga?" tukas saya. "ya", kata pak no, "sampai di atas kereta". berkejaran seperti james bond saja. seperti para pencoleng itu, polsuska di jaman itu membekali diri dengan ilmu kebal, meski tak jarang senjata bandit juga sakti, seringkali melukai.
pak no bilang, ia udah berhasil membunuh banyak orang. ada yang jasadnya ditemukan, ada yang dibiarkan jatuh begitu saja dari atap kereta.

jika ingat mayat-mayat yang dihasilkan pelurunya itu, pak no masih suka menangis, pada satu sisi mensyukuri umurnya yang panjang. pada satu sisi, dengan alasan apapun, tetap saja ia dikenang sebagai pembunuh.


algojo II

aki suharna, demikian kami memanggilnya, menjelang umur 80-an saat ia mengontrak bersama istrinya di rumah depan kakek. ia bekas kopral abadi dari divisi siliwangi, pangkatnya tak naik karena sulit sekali mencari pengganti tugasnya sebagai algojo, penyembelih para terhukum.

menurutnya..ia tak mampu mengingat jumlah manusia yang sudah disembelihnya. betul-betul disembelih dengan golok tajam, untuk menghemat peluru. tak jelas, apa mereka yang disembelih sudah diadili atau belum, tetapi kebanyakan yang ia sembelih adalah para telik yang berpihak pada belanda, demikian dongengnya. pada masa pemberontakan DI/TII, ia banyak menyembelih “gorombolan” yang tertangkap di gunung, setelah operasi pagar betis dan pengasapan gua-gua.

meski tak ingat betul berapa jumlah orang yang sudah disembelihnya, ia ingat betul proses penyembelihan itu.setiap ceritanya membuat kami bergidik, ngeri, takut, jijik..sampai tak doyan makan. kepala para terhukum itu diletakan di paha, lalu ia tatap matanya…ada yang benci ada yang menghiba, namun selebihnya pasrah…dalam keadaan tubuh terikat. tak ada permintaan terakhir.aki suharna menggorok leher-leher itu, beberapa sampai putus. pada goloknya tersisa darah…aki suharna selalu menjilat sisa darah itu, biar tak terbawa mimpi, biar tak menghantui.

bercerita, begitu kata aki suharna, adalah cara untuk menyingkirkan perihnya hati mengingat masa-masa penyembelihan itu, ia bercerita sedetail-detailnya pada siapa saja, sampai kami menghindar buat diceritai lagi.

cara yang aneh, tapi itu yang membuatnya nampak damai menjelang mati.

algojo III

bekas tetangga dekat rumah, ia salah satu dari penembak misterius di awal 80-an. ada yang paling perih katanya, saat salah satu bandit yang akan dihabisinya menitip surat buat istri dan anaknya. permintaan yang akhirnya ia penuhi, surat entah apa itu dibalas ucapan terima kasih sang istri.

katanya, sudah bertahun-tahun permintaan cerainya pada sang suami tak jua dikabulkan. surat terakhir itu, berisi pesan, bahwa sang suami akhirnya mau menceraikan...

algojo IV

mungkin kelak jika saya bertemu algojo yang menembak amrozi dan kawannya, saya akan memintanya bercerita.

algojo V

kita, yang suka membunuh mimpi, harapan, dan cita-cita orang lain untuk maju.




posted by wonka @ 2:48 AM,

2 Comments:

At Senin, November 10, 2008 4:42:00 AM, Blogger Fogz Canopus said...

kalau boleh saya mau menambahkan algojo yang ke V...yang bagi saya tidak kalah sadisnya...:)
ALGOJO V
adalah orangtua yang mengkebiri (meuncit- bahasa sunda. red) pertanyaan-pertanyaan anaknya dengan dalih "doraka, pamali, tabu, bisi dilaknat, etc"
mereka menjelma menjadi orantua kucing yang mencakar waktu anaknya main-main dengan anak beurit. orangtua monyet yang memarahi anaknya yang makan makanan selain pisang "tentunya", orangtua kita yang memarahi kita dulu saat kita coba-coba buka vcr porno koleksi mereka...dan digampar saat kita bertanya "mereka lagi ngapain?" :)

 
At Rabu, November 19, 2008 12:55:00 PM, Anonymous zen said...

keluar jg laporan lengkapnya....

 

Posting Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home