Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



mengenalkan tuhan pada anak

sungguh bukan salah aki dan nini yang mengajari saya mengaji. tapi salah saya sendiri yang keranjingan baca komik siksa kubur.

tentu setiap keluarga punya caranya sendiri mengenalkan tuhan pada anaknya. ada yang dengan dongeng fabel, ada yang dengan cerita nabi jaman dahulu. ada yang langsung ke pokoknya, belajar konsep tauhid yang tertulis pada kitab-kitab aqidah yang diwariskan ulama terdahulu.

keluarga saya termasuk pada pilihan pertama, mengenalkan dengan dongeng fabel. cerita tentang binatang-binatang yang punya tuhan baik hati. mereka beribadah karena cinta dan hormatnya pada sang pencipta. begitu pula akhirnya cara saya mulai mengenal ibadah. ada iming-iming pahala memang, tapi itu wajar buat anak-anak. prestasi biasanya memang diganjar dengan hadiah.

tetapi komik-komik siksa kubur itu mengancurkan bayangan saya tentang tuhan. karena sang maha pencipta di komik-komik itu selalu digambarkan sebagai tuan besar yang maha galak, yang siap menghukum dengan cara yang paling sadis manusia-manusia yang lalai pada perintahnya. persis seperti cerita tuan tanah dan centengnya di masa kerja paksa. ada hukuman seterika, ada potong lidah, ada yang badannya dimutilasi berkali-kali, putus nyambung lagi. malaikat digambarkan sebagai mahluk sadis yang diciptakan sebagai algojo tukang pukul.

jadilah saya beribadah karena takut. was-was. dan dihantui bayangan-bayangan yang mengerikan tentang tuhan.
seiring bertambahnya umur. karena kuatnya pengaruh komik siksa kubur yang saya masa di masa kanak-kanak, bukan perasaan cinta yang tumbuh. tetapi perasaan tertindas. terasing dari ajaran yang seharusnya saya jalani dengan ikhlas.
perasaan demikian juga ditambah dengan cara pengajaran tauhid "a la komik siksa kubur" yang diberikan guru-guru agama saya di kemudian hari.

beruntung belasan tahun kemudian saya berhasil menghilangkan pengaruh "tauhid yang menakutkan" ini. butuh waktu yang lama juga.

saya kadang berpikir, jangan-jangan sodara-sodara kita yang suka memaksakan keyakinan alirannya pada golongan lain juga orang-orang yang keimanannya dilandasi ketakutan. hidupnya seolah selalu terancam dengan siksa, dan kewajiban untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.
dengan prasangka baik, semoga sodara-sodara kita itu memang bermaksud baik ingin menyelamatkan umat manusia dari siksa. persis seperti ketakutannya pada siksa. ia ingin menghindarkan manusia lain dari siksa kubur. sungguh mulia.

tetapi apakah memang seharusnya begitu? setiap manusia mempunyai tanggung jawab individu di hadapan tuhannya. amar ma'ruf nahi munkar tak perlu menjadikan kita seolah perwakilan tuhan di dunia. yang bisa memutuskan seseorang masuk surga atau neraka.

saya memilih beribadah dengan cara yang saya percaya.
tuhan dalam benak saya bukan dzat yang penuh dengan siksa. bukan pula sebagai dzat yang sibuk menghitung pahala. lalu mensortir si ini masuk surga si itu masuk neraka.
beribadah saja. dengan cinta padanya. urusan surga atau neraka bukan urusan saya.


sodara-sodari, bagaimana cara mengenalkan tuhan pada anak anda?

posted by wonka @ 11:04 AM,

1 Comments:

At Rabu, Oktober 11, 2006 1:10:00 AM, Blogger dianti said...

Aku setuju ...
Allah itu Rahim
Maha Sayang sama kita
Aku lebih prefer, mustinya yang kita takutkan adalah kalo qta ga bisa ngerasain lagi sayangnya Allah.

-dianti-

 

Posting Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home