Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



grahita tuna grahita

seorang teman menelpon saya dengan tersedu. ia marah, ia panik, ia kecewa, ia terluka.

kemarin, anaknya baru saja menyelesaikan ujian nasional (UN), yang kata mendiknas, adalah alat ukur yang valid atas keberhasilan studi di negeri ini. anak teman karib saya itu salah satu pesertanya. rahman, anak baik itu tak mau bicara sampai hari ini. anak itu marah karena tak berhasil menyelesaikan ujiannya. ia mogok berinteraksi dengan dunia luar, sejak kemarin ia mengurung diri di kamar, demikian kata teman saya itu. rahman menderita down syndrome, atau tuna grahita sejak bayi.

tuan dan puan yang baik hati, tentu saja anda bisa menyelami perasaan teman saya yang terluka itu. ibu yang dilukai karena anaknya menjadi korban kebijakan pejabat yang buta tuli, tak mau melihat, tak mau mendengar apa yang terjadi akibat kebijakannya. pada kasus down syndrome, tingkat kemampuan nalar manusia naik turun, namun lebih sering turunnya. sedangkan soal-soal dalam UN, meski pun diklaim sedemikian canggihnya, tetap saja tak akan mampu menjangkau tingkat keunikan kemampuan nalar tersebut. di lain sisi, harapan para orang tua penderita down syndrome ini pada pendidikan adalah membuat anak-anak tercintanya mampu melakukan aktivitas seperti manusia lainnya yang mendapat anugerah hidup normal (meski demikian banyak yang lupa bersyukur atas anugerah ini), bukan ijazah penanda lulus UN dan hal-hal formal yang sesungguhnya tiada guna untuk anak-anak mereka.

mendengar tangis teman saya itu, saya ikut marah, saya ikut kecewa, saya ikut terluka.

sungguh derita tiada akhir negeri ini memiliki para pejabat penentu arah pendidikan yang nyata-nyata tuna grahita. hanya kekuasaan yang mereka kejar, hanya ketamakan yang mereka punya. pada derita manusia, nalar mereka tak mampu mencerna.


posted by wonka @ 1:53 PM,

1 Comments:

At Sabtu, April 28, 2007 7:41:00 PM, Blogger NiLA Obsidian said...

hiks....mau di bawa kemana negeri ini...?

 

Posting Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home