Site Network: Personal | My Company | Artist projects | Shop

 

senyum itu baik



tengri, khidr atau melkisedek

seperti orang mabuk, matanya terbelalak, mulutnya merapal bebunyian tak jelas. keringat dingin mengalir di sekujur tubuh, wajah memucat. ia terkapar di lantai kayu kedai tua itu.

ia seperti mikail, pemuda dari kedalaman kazakhstan dalam the zahir nya coelho. penerus tradisi spiritual tengri. ia seperti dinding yang memantulkan ratapan menjadi suara yang menyelinap kalbu.

lelaki itu siuman dari taksadar dirinya. lalu ia bercerita tentang simurg nya attar. lalu ia berputar dengan shalawat, lalu berdzikir merapal allah. berputar dengan rebana darwis dan wewangian gaharu.

lalu ia berhenti, sujud dengan takdzim. wajahnya penuh kilau cahaya. menggamit tanganku, lalu ia membaca iqamat. di kedai tua itu kami shalat malam berjama'ah.

malam gelap menjelang fajar, aku bangkit dari sujud. sendiri. lelaki itu telah pergi. entahlah, mungkin ia khidr atau melkisedek.

menjelang subuh bersalju, dini hari lalu.

posted by wonka @ 12:41 PM,

1 Comments:

At Sabtu, Desember 09, 2006 1:31:00 AM, Blogger angin-berbisik said...

Hmm, bagus bangets...kapan yah kebodohanku dlm mengkhayal bisa menyamaimu ul ?

*sesama pengkhayal bodoh*

 

Posting Komentar

Links to this post:

Buat sebuah Link

<< Home